Monday, January 16, 2012

Pengobatan Langit, Mukjizat Itu Akan Selalu Ada

10 comments
"Capek bu..... ampun......"

Huft... ngobok-ngobok blognya mbak Nurmayanti Zain membuat separuh tenagaku melayang. Buanyak banget postingnya. Puji Tuhan....., setelah 2 hari ngobok-ngobok blognya Mbak Nur akhirnya nemu juga posting yang sreg dengan hati dan pikiran. Post dengan title Pengobatan Langit, yang terpublish Saturday, July 30, 2011, saya katakan dengan bangga dan suara lantang kalau post dengan title tersebut menginspirasi dan juga memotivasi serta menggelitik memori saya akan sebuah pengalaman hidup.

Share aja ya mbak......soalnya mirip-mirip sih...... (BTW, mohon maaf nih....! Share berdasarkan pengalaman iman saya)

"Kalau tidak mau diajak share sukarela, maksa pun jadi...." *peace Mbak Nur* | kabur......


Siapa yang tahu hidup kita seperti apa dan bagaimana nantinya, sebagai daging (manusia,red) mintanya pasti yang enak-enak, yang baik-baik, yang untung,dsb. Pernah dengar manusia meminta:
"Bapa...., biarkan aku memikul salib kehidupan ini dengan penuh suka cita dan rasa terimakasih?"
atau
"Bapa...., jadikan aku sebagai alatMu, dan garam bagi kehidupan?"

Mmmmm....., memikul salib bukan hal yang mudah lho.... pikir-pikir dulu saja kalau mau ajukan permohonan seperti itu. Menjadi garam dan alatNya tidak segampang membalik telapak tangan untuk menjalaninya. Banyak duri..., siap terluka, siap sengsara, siap menderita, pokonya siap segalanya.

Permintaan seperti diatas, bukanlah permintaan yang mustahil. Seperti saudari saya, dengan penuh rasa syukur ia menerima semua penyakit yang menggerogotinya.

Bermula 12 tahun lampau, ketika ia jatuh dan kepalanya terbentur batu.
"OK, semuanya baik-baik saja, tidak ada luka dan tidak ada darah"
"Sakit kepala ?"
"Itu biasa..... semua orang juga sering mengalaminya kalau kepalanya terbentur"
"Sakit kepala terus-terusan...?
"Kalau itu..., salah dia sendiri kenapa sudah tahu sakit kepala tidak minum obat"
"Baiklah..., kita coba dengan minum obat sakit kepala"

Sedikit petikan opini yang menganggap semuanya biasa.

***

10 tahun berlalu (2010), mmm....sakit kepala yang tak kunjung sembuh. Final Option periksa ke Dokter ! Gelora semangat 45 mengelilingi jiwa. Satu jengkal lagi sampai, Yah..... sudah jatuh tertimpa tangga pula, fasilitas rumah sakit Larantuka tidak bisa melakukan scan.

"Kupang?"
"Harus ke sana kah?"
"Maumere...?"
"Ah...tidak, lebih baik ke Kupang"

Lalalala... 24 jam dalam feri berlayar ke Kupang. Argh...benar-benar sakit yang menyenangkan.

"Sudah siap...?"
"He eh...."

Satu..., dua... tiga...., masuk ruang dokter. Ambil ini..., ambil itu..., tolong begini.... hik ribet.

"Kenapa bisa dibiarkan sampai seperti ini"
Eit... dokternya marah-marah, sabar...... *ngelus dada*

"Tumor sudah sebesar ini, kenapa dibiarkan?"
"Tumor?"
"Hah..., ya tumor otak yang sudah besar"

"Ini harus ke Bali, untuk operasi. Tumor itu harus segera diangkat"
Saran terbaik yang bisa dokter berikan.

OK siapa takut ke Bali, biar orang kampung Bali juga dijapanin, toh Bali tak sekejam ibu tiri.

PENTING
Tumor otak yang sudah membesar, mengakibatkan pandangan ia terganggu, karena si tumor sudah menekan sebagian saraf pengelihatanya ditambah saraf motorik yang sudah lemah. Sakit kepala....? bukan sakit kepala biasa lagi. Setiap menit dia merasakan sakit.

Rujukan dokter mengatakan bahwa harus operasi. Jika itu yang terbaik operasipun tidak apa-apa. Dan bagaimana hidup berbicara? Satu minggu di rumah sakit tidak ada tanda-tanda bahwa operasi akan dilakukan, kondisi pasien grafiknya menunjukan penurunan.

"Bapa...., apa yang harus kami perbuat?"

Kami mendesak dokter agar segera mengangkat tumornya, melihat keadaan pasien yang makin memburuk dan terlihat seperti maaf "orang gila". Jasmani sehat, namun komunikasi sudah tidak ada respon dengan topik. Dan Dokter bilang.... ehem

"Ibu..., proses operasi kepala tidak seperti kita membuka toples dan menutupnya kembali dengan gampang. Apa yang ada di kepala berkaitan dengan semua yang ada dalam tubuh. Jika setelah operasi pasien selamat, itu mukjizat tapi jika terjadi hal lain...? Kita tidak tahu apa yang terjadi di meja operasi"

Apa yang terpikir...., dokter angkat tangan (menyerah, red). Saran terakhir yang kami dapat lebih baik kami membawanya pulang. Sesak........

Malam itu, biasa.... karena menyelesaikan deadline tulisan tidurpun jadi terlambat. Ngantuk____________tidur dulu yak.

"Mama...!" Suara suamiku yang mendayu memanggilku
"He....." si pemalas yang ogah bangun
"Tadi mama bilang apa"
"Bilang apa No (panggilan sayang, Mas-jawa, red)"
"Mama bilang, kalau ingin semuanya baik, kalian ini berdoa"
"Oh....begitukah" Daging dan roh yang belum bersatu secara utuh dipaksa mengingat kembali apa yang terjadi. Aha.....

"Begini No..., soalnya ada yang bilang begitu ke saya, Novena gitu katanya..."
No manggut-manggut, mengerti.

"Mulai malam ini ya?"
"Tapi saya sudah menawarnya No, saya bilang lakukan Novenanya habis pesta saja"
"Jangan mama...! Roh Kudus telah menyampaikan semua untuk yang lebih baik, jangan pernah menunda"
"Baiklah...." *berat hati*

Mulai malam itu, kami berdua Novena Kepada Hati Kudus Yesus, dengan itensi memohon kesembuhan bagi saudari kami. Jelasin sedikit ya.... Novena itu sebuah devosi yang terdiri atas doa-doa yang diucapkan (biasanya) selama sembilan hari berturut-turut,di jam yang sama untuk memohon terkabulnya rahmat khusus. Kebetulan jam Novena kami jam 24.00

Novena oh Novena....

***

Pihak rumah sakit sudah menanyakan kapan pasien akan dibawa pulang. OK kami setuju, mungkin itu jalan yang terbaik yang Tuhan berikan. Kami sudah siap......, ah ternyata hari minggu pasien tidak bisa keluar harus menunggu besok. Sekali lagi ini yang terbaik.

Setelah diskusi yang sangat alot, akhirnya diputuskan jika pasien keluar berarti langsung pulang ke kampung (Waimana, red). Tiket sudah siap, pesawat sudah menanti...Hari Senin kami mengantar mereka ke bandara Ngurah Rai. Dengan keadaan pasien yang seperti itu biasanya pihak bandara mempersulit, mmmm Puji Tuhan semuanya lancar, tidak ada yang dipersulit sampai tujuan.

Novena tetap jalan terus dan berakhir tanggal 13 Oktober 2011, tanggal yang tidak bagus. Konon katanya sih tanggal itu tanggal sial. telepon dulu ah.....

"Bagaimana keadaan disana?"
"Semuanya baik...." jawaban dari balik telepon
"Syukurlah.., Ince ?"
"Masih sama seperti di Denpasar"
"Ya..., semua merupakan yang terbaik, dan satu lagi doa..."
"Iya tata (kakak, red)"


Dua minggu lewat dengan cepat, senin....,selasa..., dan teman-teman sejenisnya berganti tanpa bilang-bilang. E..... HP berbunyi.....
"Tululit...., tulalit....., tululit....."
"Sore....."
"Tata...., Ince sudah mau makan, komunikasinya juga sudah nyambung, jalan juga sudah bisa. Terimakasih untuk tata dan semua keluarga di Denpasar yang telah membantu selama Ince menjalani pengobatan"
"Syukur kepada Allah....." *Nangis.....*

"Mintalah, maka akan Kuberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah , maka pintu akan Kubukakan bagimu" Matius 7:7

"
Apa saja yang kalian minta kepada Bapa-Ku atas nama-Ku, itu akan diberikan Bapa kepadamu" Yohanes 16:23

"Langit dan bumi akan musnah, tetapi sabda-Ku tidak akan musnah" Matius 24:35

"Jika engkau hendak menyenangkan Daku, percalah kepada-Ku,. Jika engkau hendak lebih menyenangkan Daku, berharaplah pada-Ku selalu" (Penggalan Novena Kepada Hati Kudus Yesus)

Nyanyi sedikit ya..... ehem-ehem.....

Indah Pada Waktunya
Ada waktu di hidupku, pencobaan berat menekan,
Aku berseru mengapa ya Tuhan?, nyatakan kehendakMu
Jalan Tuhan bukan jalanMu, jangan bimbang ataupun ragu
Nantikan Tuhan jadikan semua, indah pada waktunya

Pada waktu masa depanku, pada Tuhan kusrahkan hidupku
Nantikan Tuhan berkarya, indah pada waktuNya

Hari esok tiada kutahu, namun tetap langkahku maju
Kuyakin Tuhan jadikan semua, indah pada waktuNya


Perasaan nangis mulu dari tadi? (ada yang nanya gak ya....?) sadar kalau Tuhan tidak pernah meninggalkan umatnya sendirian. Apa yang kami inginkan belum tentu baik baik bagi kami, tapi Tuhan telah memberi apa yang kami butuhkan dengan jalan demikian.




10 comments:

Nurmayanti Zain said...

hihihihi mbak magdalena bisa aja :D maaf deh mbak jadi bikin pusing =P

wahhh~ awalnya dianggap biasa tak tahunya udah jadi tumor yang bisa melayangkan jiwa...

satu yang pasti, dokter itu bukanlah penentu hidup matinya manusia =D setuju nggak mbak?

-------------
sudah terdaftar
terima kasih atas partisipasinya yaa mbak :)

Stupid monkey said...

sukses ya, sukses juga dengan GA nya ;)

Kampung Karya said...

blogwalking here...
folbek my blog yaaa!

femalebox said...

ok segera meluncur ke TKP

femalebox said...

@Nurmayanti Zain setuju buanget mbak, btw saya mau minta maaf karena dalam postingan saya ada salah penulisan nama yang harusnya Nurmayanti Zain saya tulis Nur Mayanti Zain, segera di refisi mbak....

Uswah said...

Begitulah ujian Tuhan,, toh semua akan indah pada waktunya :) mukjizat itu akan senantiasa ada :)

jiah al jafara said...

sukses GA nyaaa

Una said...

Yappp ^^
Tuhan memang selalu baik.
Sukses mbak GAnyaaa ^^

Nurmayanti Zain said...

nahhhh mantap :)
udah bener nih mbak magda ^^
thanks yaa

Nur Muchamad said...

sukses GA-nya, sis :D

salam kenal dari tetangga sebelah :P

Post a Comment